Sunday, 9 October 2011

Trend Indonesia , Lebih Suka Jadi Karyawan Daripada Jadi Pengusaha


Jakarta – Inilah yang terjadi di Indonesia. Orang-orang berbondong memburu ijasah untuk jadi karyawan. Dengan pendidikan tinggi pun mereka tidak dihargai oleh tempatnya bekerja. Dengan UMR (Upah Minimum Regional) 1.3 jt mereka perjuangkan. Ini tidak sebanding dengan apa yang mereka keluarkan.  Dalam hal ini pemerintah harusnya ikut campur dalam persoalan ini.



Keuntungan Dan Cara Berhutang Kepada Bank

Banyaknya tenaga kerja yang menganggur memberikan keuntungan sendiri kepada pengusaha dengan memberikan upah yang minim. Belum lagi tenaga kerja yang rela memperjuangkan segalanya untuk mengecap pendidikan demi secarik kertas yang mengatarkannya kepada suatu pekerjaan. Alhasil pendidikan yang semerawut tenaga kerja yang membludak memberikan kekacauan tersendiri di perekonomian Indonesia.

Tips for Using Credit Card From Bank


Memang saat ini pemerintah terus mendorong bertumbuhnya wirausaha di Indonesia. Umumnya para lulusan SLTA dan perguruan tinggi masih lebih berminat jadi pekerja atau karyawan dibandingkan menciptakan lapangan kerja.

Menteri Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Syarief Hasan mengingatkan, Indonesia masih membutuhkan sekitar 4,75 juta orang wirausaha. Sedangkan berdasarkan pendekatan usaha formal jumlah yang tersedia 592.467 orang wirausaha, atau masih dibutuhkan sekitar 4,15 juta wirausaha.


Tips Marketing Produk Tersukses

Data Kementerian Pendidikan Nasional memperlihatkan pada umumnya lulusan SLTA (60,87%) dan perguruan tinggi (83,18%) lebih minat menjadi pekerja atau karyawan (job seeker) dibandingkan dengan yang berupaya menciptakan kerja.

Karena itu perlu penanaman jiwa dan semangat kewirausahaan bagi pemuda dan di perguruan tinggi agar mereka percaya diri, selalu ingin maju, mampu melihat peluang dan memanfaatkannya, selalu ingin berprestasi, kreatif dan inovatif, mandiri, pantang menyerah, dan berani mengambil risiko.


Jurus Marketing Paling TOP – ala Kim Kardashian

Tingginya tingkat pengangguran di Indonesia umumnya juga disebabkan tidak seimbangnya pertumbuhan investasi dan faktor lain yaitu minimnya keterampilan kerja. Di sisi lain, sistem pendidikan di Indonesia yang menerapkan metode penilaian prestasi kelulusan siswa dan mahasiswa sering kali hanya terbatas pada penilaian kemampuan academic knowledge, cenderung tidak menjadikan para lulusannya kreatif untuk menciptakan kemandirian kerja (job creator) karena kurangnya soft skill.

Tips Jitu Hadapi Sensus Pajak
Selain pendidikan mengenai kewirausahaan , pemerintah juga harus mendukung dalam sektor capital dan perbankan agar memberikan pinjaman kredit yang murah dan mudah sehingga akan lebih cepat terjadinya suatu unit kerja usaha.

 Sarana Promosi Online Efektif - Twitter
 

Mari Kita Ubah Trend Itu, Dengan Menghadirkan 4,15 Juta pengusaha lagi di Indonesia.

5 komentar:

AbduGreen said...

Pertamax.... ini adalah bekal buat masa depan aku,,,,, mantab gan infonya... makasih banyak gan,....

Heldalory said...

keduax....gw mau jd pengusaha dah daripada jd karyawan, bosen juga jd karyawan,

webmdmk said...

Kunjungan silaturahmi malam sahabat...terima kasih atas berbagi informasinya

blog-nailah said...

Ternyata di indonesiaku tercinta ini seperti ini yah kawan...Makasih atas berbaginya

IstanaDownload said...

ane setuju ini gan.. mereka hanya bisa melihat hasil yg instan drpd hasil yg pelan2 tp nantinya bs besar...

Post a Comment

Translator

Hubungi saya, 08998451544